post image

Rumah Layak Huni Tak Memuaskan, Bupati Kecewa

Kamparkab- Bupati Kampar H Jefry Noer  mendapatkan laporan pengaduan dari masyarakat tentang kondisi pembangunan Rumah Layak huni (RLH). Menanggapi pengaduan tersebut, Bupati meninjau langsung salah satu desa di Kecamatan Kampar Utara yaitu Desa Sendayan atau lebih tepatnya di dusun 2 kapur, Kecamatan Kampar Utara.

Peninjauan dilakukan oleh Bupati Kampar pada Kamis (7/1) untuk memastikan tentang informasi yang sampai kepadanya, apakah sesuai dengan kondisi di lapangan atau tidak. Beberapa lokasi ditinjau langsung oleh Jefry dengan berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor.

Walaupun kondisi cuaca yang sedang gerimis namun tidak menyurutkan semangat Bupati menindaklanjuti pengaduan masyarakat. Rombongan yang ikut mendampingi antara lain Kepala Dinas Cipta Karya Chalisman, Kepala Dinas Pertanian, Kabag Perekonomian Sudiarto, Camat Kampar Utara Iskandar Dan Kepala Desa Sendayan.

Bupati Kampar Sidak RLH

Saat pertama menginjakkan kaki di dusun 2 Desa Sendayan, Jefry melihat langsung RLH yang akan diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan kurang mampu. Salah satunya RLH yang akan diperuntukkan kepada ibu Yuyun yang sehari-hari berjualan lontong dan pecal. Ibu dua anak ini memiliki anak anak yang masih sekolah SD Kelas V dan Kelas I SMP. Penjual pecal ini mengaku hasil jualannya hanya cukup untuk makan sehari-hari, karena pekerjaan suaminya yang hanya sebagai pemotong getah karet dengan penghasilan di bagi tiga dari hasil penjualan karet. Selama ini Yuyun mengontrak rumah tetangga. Saat ini akan menerima rumah bantuan Pemkab Kampar telah siap namun belum dialiri listrik dan pengerjaanya yang terkesan asal–asalan.

Bupati Kampar H Jefry Noer saat melihat langsung rumah menyatakan kekecewaanya. Saat melihat finishing dari RLH yang memiliki dua  kamar dan bercat berwarna biru ini, tampak pemasangan keramik yang serong-serong dan kusen pintu yang menggunakan kayu berkualitas rendah. “Rumah ini tidak layak dengan hasil yang seperti ini. Dari hasilnya ini seperti kerja tukang yang asal-asalan, keramiknya banyak yang lari dan plester dinding juga kasar serta kusennya juga menggunakan kayu jelek,”papar Jefry.

Bupati Kampar Sidak RLH

Kemudian, Jefry melanjutkan dengan melihat rumah renovasi yang tak jauh dari lokasi pertama dengan berjalan kaki. Tak ubahnya dengan bangunan yang pertama ia lihat, ternyata bangunan kedua yang direhab ini masih terlihat belum sempurna karena setelah diperhitungkan oleh Bupati, renovasinya tak sesuai dengan dana 11 juta yang diberikan Pemkab Kampar. Kecewa dengan lokasi kedua, Jefry langsung mengunjungi lokasi ketiga dengan menggunakan sepeda motor walau cuaca gerimis mengguyur Desa Sendayan.

Sesampai di lokasi ketiga, Jefry langsung mengecek fisik dan masuk ke dalam rumah milik ibu bernama Rosliana yang bekerja sebagai buruh tani yang tinggal bersama anaknya Afdareni. Ketika melihat struktur atap seng yang baru diganti itu, Jefry sudah melihat keganjilan dan ketika menginjak lantai rumah panggung itu juga diketahui menggunakan kayu berkualitas rendah. “Seharusnya untuk lantai ini menggunakan kayu kwalitas baik dengan ukuran 1 inci, bukan kayu banci seperti ini yang hanya 1-2 cm tebalnya, saya ini pengusaha kayu jangan kalian bohongi,”ujar Jefry.

Tak hanya sebatas itu, Jefry juga menyesalkan ternyata plafon rumah yang cukup tua itu dibiarkan menggunakan plastik usang. Rumah yang baru satu bulan diganti atapnya itu telah mengalami kebocoran. Hal itu diketahui Jefry saat melakukan dialog dengan ibu tua sang pemilik rumah. “Saya minta inspektorat turun ke lapangan. Dinas Cipta Karya juga harus melihat bestek, seharusnya uang masyarakat itu dikelola dengan baik karena uang masyarakat ini satu perak pun harus di pertanyakan,”tegasnya.

Bupati Kampar Sidak RLH

Masih terlihat kecewa berat dengan pengerjaan yang tidak maksimal, Jefry juga menegur Kepala Desa, OMS serta Kadis yang hadir. Bahkan menurut Jefry, lebih bagus warna yang sebelumnya dibandingkan setelah pengecatan rumah ini dilakukan. “Kalau saya hitung dengan nilai angka ini tak seberapa pengerjaanya bahkan bisa lebih bagus  hasilnya dari ini. Taukah masyarakat yang punya rumah ini ada bantuan Rp11juta dan uang bantuan itu harus digunakan masyarakat untuk merehab rumah. Ini bukan mencat rumah tapi malepo,”ujar jefry

Melihat pengerjaan yang asal asalan, Jefry meminta inspektorat agar turun langsung dan mengecek pengerjaan fisik bangunan tersebut. Desa Sendayan sendiri mendapatkan bantuan sebanyak 6 rumah yang rehap dan 2 unit rumah siap bangun layak huni (Humas/DAT)

Berita Terkait