post image

Ayo Kelola Lingkungan Hidup Berkelanjutan Tanpa Membakar

Kamparkab - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman meminta seluruh bupati dan wali kota di daerah itu untuk bersama-sama menerapkan pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan tanpa harus melakukan pembakaran.

"Kemudian menguatkan program pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut berbasis masyarakat," kata Arsyadjuliandi dalam sambutan diacara pembukaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan Tahun 2015 di Batalyon 132 Wirabima Kecamatan Salo, Kampar, Rabu (29/7).

Plt Gubernur Riau menambahkan, saat ini Indonesia mengalami perubahan cuaca yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan hingga menimbulkan polusi udara.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Riau sejauh ini telah mengadakan aksi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dengan melibatkan unsur Pemerintah Pusat dan daerah bahkan masyarakat.

"Diharapkan setiap daerah untuk menjaga agar tidak terjadi pembakaran lahan dan hutan. Agar permasalahan kebakaran lahan ini tidak terjadi lagi," katanya.

Pada acara pembukaan KKN tahun 2015 di Kampar, turut hadir Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir dan Menteri LHK yang diwakilkan Sekjen Bambang Hendroyono, serta Bupati Kampar Jefry Noer.

Sejauh ini, Pemerintah Pusat dan Provinsi Riau telah menghabiskan ratusan miliar rupiah untuk mengatasi masalah kebakaran lahan dan kabut asap yang terjadi selama bertahun-tahun.

Hingga saat ini, menurut informasi, kejadian itu maih terus berlangsung di beberapa wilayah kabupaten/kota di Riau hingga menyebabkan polusi asap yang hebat.

Sebelumnya pada Selasa (28/7), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memantau 45 titik panas di Riau dari total 148 di Sumatera.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru Slamet Riyadi mengatakan, sebanyak 45 titik panas di Riau terkonsentrasi pada 10 dari total 12 kabupaten/kota sehingga menyebabkan kualitas terus menurun seperti Bengkalis dan Indragiri Hilir sama-sama sembilan titik.

Lalu Dumai sebanyak delapan titik, Pelalawan, Kampar dan Indragiri Hulu masing-masing empat titik, Kuantan Singingi tiga titik, Rokan Hulu dua titik, Rokan Hilir dan Meranti satu titik panas.

"Selain Riau, 148 titik panas tersebar pada empat provinsi seperti Sumatera Selatan tercatat 55 titik, kemudian Jambi 35 titik, lalu Bangka Belitung 9 titik dan Lampung 4 titik," katanya. (fzr)

Berita Terkait