post image

Kampar Rangkul Pengusaha Perkebunan Pasarkan Biourine

Kamparkab - Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar Provinsi Riau merangkul para pengusaha perkebunan dan pertanian di daerah itu untuk memasarkan biourine yang merupakan pupuk berkualitas produk hasil limbah ternak yang akan dikembangkan lewat Program Desa dan Rumah Tangga Mandiri Pangan Energi.

"Biourine ini potensial untuk dikembangkan karena harga yang menjanjikan dan pasar yang luas. Dimana ada perkebunan dan pertanian, di sana pasti membutuhkan bubuk dan ini adalah peluang yang dimaksud," kata Bupati Kampar Jefry Noer kepada pers di Kampar, Senin (30/3).

Biourine merupakan pestisida hewani atau pupuk organik cair yang merupakan larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang mengandung unsur haranya lebih dari satu unsur tremasuk urine sapi.

Saat ini, Ppembuatan biourine itu dibangun Pemdakab Kampar dalam program percontohan di Desa Kubang Jaya lokasi Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan dan Swadaya (P4S).

Persiapan lahan itu lokasinya di dekat kandang sapi, dibuat dua hamparan berdampingan, satu hamparan seluas 1.000 meter dan 1.500 meter. Di dalamnya akan dibangun satu keluarga dalam rumah tangga yang  bertanggungjawab untuk pengelolaan lahan itu.

Dari satu hamparan 1.000 meter misal, lanjut dia, akan di isi sapi sedikitnya empat ekor, ikan lele 2.000 ekor ukuran 2 x 4 meter, ayam 60 ekor, kambing 4 ekor, jamur 1.000 sampai 2.000 blok, dan tanaman sayur mayur, cabai cesim, kangkung.

Nantinya, kata Jefry, dari ternak sapi itu akan menghasilkan biogas, biourine dari kotorannya itu juga dapat menjadi pupuk organik ramah lingkungan, daripada dibiarkan berserakan di jalanan atau dihamparan kebun.

"Kotoran satu ekor sapi menghasilkan menjadi pupuk organik, dari kencing minimal 10 liter per hari, bisa dijual perliter Rp25 ribu, dari ayam menghasilkan telur untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari," katanya.

Jefry mengatakan, saat ini untuk persiapan pengembangan biourine, akan dilakukan uji laboratorium dan uji hasil terhadap lahan pertanian dan perkebunan sebelum akhirnya dipasarkan secara luas.

Sebelumnya diacara rapat koordinasi bersama Tim Zero, tim yang fokus untuk memberantas kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh di Kampar, Jefry menjelaskan prospek biourine yang begitu menjanjikan.

"Untuk tanaman palawija, satu liter biourine dicampur dengan sepuluh liter air dan kemudian disiramkan untuk menjadi pupuk. Sementara untuk tanaman perkebunan khususnya kelapa sawit, satu liter biourine dicampur lima liter air," katanya. (humas)

Berita Terkait