post image

Kampar Sejahterakan Petani Agar Tak Beralih Profesi

Kamparkab - Pemerintah Kabupaten Kampar mewujudkan berbagai program untuk menyejahterakan kelompok petani agar tidak beralih profesi seperti yang dilakukan kebanyak petani di berbagai dearah lain di Riau.

"Petani di Kampar malah menghasilkan uang yang berlimpah, lebih besar penghasilan mereka dibandingkan gaji bupati," kata Bupati Kampar Jefry Noer kepada pers di Bangkinang, Selasa (7/4).

Pemdakab Kampar selama ini mengintegrasikan berbagai program peningkatan kesejahteraan para petani di kawasan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata, Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu.

Sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Mawardi Arsyad mengatakan, di berbagai wilayah di Riau saat ini banyak petani yang meninggalkan usaha taninya dan beralih ke profesi ke yang lain karena dianaggap pekerja itu tidak mendatangkan prospek baik.

"Hal ini menyebabkan jumlah rumah tangga petani Riau tiap tahunnya mengalami penyusutan," katanya.

Ia mengatakan, dalam setahun penyusutan jumlah Rumah Tangga Petani Riau tersebut mencapai 1,75 persen dari tahun sebelumnya.

Dia menyebutkan, makin banyaknya petani Riau meninggalkan usaha taninya karena mereka menilai prospek di bidang pertanian tidak begitu bagus dan hasil uang yang sangat rendah.

Rendahnya penghasilan dari usaha tani ini akan sangat dirasakan oleh para petani kecil yang memiliki luas tanah yang sangat terbatas yakni dibawah 0,3 hektar. "Mereka inilah yang banyak meninggalkan usahanya dan beralih ke usaha lain," ujarnya.

Akibat kondisi ini, menurut Mawardi, produksi beras di Riau setiap tahunnya mengalami penurunan. Jika tahun 2013 lalu produksi padi Riau sempat mencapai 250 ribu ton, namun pada tahun 2014 turun menjadi 200 ribu ton.

Padahal, lanjut dia, kebutuhan beras Riau setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Saat ini kebutuhan beras Riau telah mencapai 900 ribu ton. "Ini artinya Riau masih masih kekurangan sebanyak 700 ribu ton beras lagi," jelasnya.

Sementara itu, saat ini Pemerintah Dearah Kampar terus menjalankan program mendukung dunia pertanian, baik padi, sayuran hingga lainnya.

Bahkan sekarang ada program yang dinamakan Desa dan Rumah Tangga Mandiri Pangan Energi. Program tersebut merupakan program terbaru Pemdakab Kampar yang masuk dalam 3 Zero "plus" target swasembada pangan dan energi yang mengedepankan pemanfaatan lahan sempit untuk menghasilkan berbagai kebutuhan rumah tangga yang lebih dari cukup.

Di atas lahan seribu meter persegi itu, setiap rumah tangga dapat memelihara empat ekor sapi bila sapinya merupakan sapi Brahmana, namun bila yang dipelihara sapi Bali maka jumlahnya bisa enam ekor, dan untuk lahan seluas 1.500 meter persegi, maka akan bisa lebih banyak lagi.

Kemudian, dibangun pula lokasi untuk pemeliharaan ayam petelor dengan hasil lebih kurang 50 butir telor per hari. Selanjutnya juga ada kolam untuk perikanan. Sementara untuk tanaman, rumah tangga mandiri dapat menanam berbagai jenis sayuran yang menjadi kebutuhan pokok, mulai dari bawang, jamur, cabai, dan lainnya.

Selanjutnya dari sapi yang dipelihara tersebut, juga akan menghasilkan lebih kurang 40 liter urine per hari yang akan diolah menjadi biourine dimana harganya bisa mencapai Rp25 ribu per liter. Bio urine dapat digunakan untuk pupuk perkebunan berkualitas tinggi, begitu juga dengan kotoran padat yang dihasilkan sapi-sapi tersebut juga dapat menghasilkan biogas sebagai alternatif bahan bakar.

Jefry Noer mengatakan, melalui program ini masyarakat benar-benar akan sejahtera jika serius melaksanakannya. Karena hasilnya tidak main-main, bisa membuat masyarakat yang tadinya miskin menjadi jutawan dan tidak kebingungan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

"Mau masak tinggal beli garam, dan bumbu-bumbu saja. Mau bawang, cabai dan sayuran, tinggal dipanen di halaman rumah. Untuk masak, sudah ada biogas dan ikan yang dipelihara sendiri," katanya.

Jefry merincikan, jika program ini dijalankan dengan baik dan serius, maka hasilnya juga lebih dari memuaskan. Seperti bio urine hasil dari kotoran cair sapi yang dipelihara, per bulannya dapat menghasilkan lebih seribu liter.

"Anggap saja yang jadi atau berhasil diolah itu 250 liter, artinya sudah menghasilkan uang lebih dari Rp6 juta. Belum lagi dari hasil pertanian dan perikanan yang jika serius dijalankan juga akan mendatangkan uang," katanya.

Pada program ini, Jefry Noer memberikan pembelajaran bagi masyarakat, bahwa banyak yang dapat dimanfaatkan dari lahan yang sempit. Bahkan inovasi yang dikedepankan memberikan pelajaran; bahwa ternyata limbah ternak memiliki harga jual yang melebihi harga dari hewan peliharaan itu.

"Dalam program ini, semuanya dibalik. Jika selama ini masyarakat menganggap sapi sebagai hewan ternak yang berharga, ternyata limbah atau kotorannya jauh lebih berharga. Bahkan air kencingnya bisa lebih mahal dari susu yang dihasilkan, bahkan lebih mahal dari minyak," katanya. (humas)

Berita Terkait