post image
Ilham Zamil (Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang)

Sertifikasi Guru, Salah Satu Jalan Kehancuran Bangsa? (Bagian 2- habis)

Kasus Di Lapangan

            Banyak fenomena yang terjadi di lapangan setelah program sertifikasi guru diluncurkan oleh pemerintah. Beberapa kasus yang dapat dilihat secara kasat mata antara lain :

Guru berlomba-lomba mendapatkan jumlah jam yang cukup.

Al hasil, guru akan berebut jam ditempat mengajar. Akan terjadi persaingan tidak sehat antar guru. Persaingan mendapatkan jumlah jam untuk kecukupan sertifikasi. Guru bidang studi akan berebut jam di tempat mengajar. Disini akan tampak persaingan yang tidak sehat. Akan terjadi kecemburuan social jika wakil kurikulum tidak bisa bijaksana. Akan terjadi pendekatan “miring” antara guru dengan wakil sekolah. Guru akan memberi nilai plus-plus kepada wakil kepala sekolah. Bisa saja memberi sejumlah uang kepada wakil kurikulum, atau memberi bingkisan berupa baju, jam tangan, atau benda-benda pakai yang berkelas. Bagaimana dengan guru yang tidak bisa berbuat demikian? Bagaimana dengan guru yang mengharapkan tunjangan sertifikasi hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja? Tidak bisa membeli kebutuhan pokok lain.

Guru lebih mementingkan pemenuhan persyaratan sertifikasi guru dibandingkan dengan kegiatan pembelajaran di kelas.

Guna memenuhi persyaratan berkas sertifikasi,   guru meninggalkan kelas dan mengutamakan kelengkapan berkas sertifikasi. Masalahnya adalah persyaratan untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi guru tersebut rumit. Banyak lembaran-lembaran kertas yang harus dilengkapi guru. Akibatnya, kelas menjadi ditinggalkan. Anak akan diberikan catatan di kelas. Suasana kantor menjadi ramai dengan guru-guru yang melengkapi berkas sertifikasi. Bagaimana dengan anak-anak di kelas? Apakah ada jaminan keamanan anak-anak di kelas? Bagaimana dengan pembinaan karakter anak? Bagaimana dengan kemampuan kognitif anak? Apakah anak akan merasa cukup dengan member catatan saja untuk belajar?

Banyak siswa yang tidak memahami materi pembelajaran.

Dampak dari guru yang meninggalkan kelas adalah ketertinggalan materi ajar di sekolah. Bagaimana anak akan belajar, bagaimana terjadi proses pembelajaran dengan baik, tanpa ada control dari guru bidang studi. Sedangkan ada gurunya setiap jam di kelas, masih susah anak untuk dapat nilai yang bagus. Apalagi kalau tidak ada guru? Bagaimana anak-anak akan belajar dengan baik? Tidak bisa disamakan antara anak-anak yang berasal dari sekolah yang diseleksi dengan anak yang berasal dari sekolah yang tidak diseleksi. Hal ini tampak pada hasil ujian semester anak.  Banyak anak yang tidak mampu menjawab soal dengan baik. Anak asal-asalan saja me njawab soal. Mereka lebih banyak menunggu jawaban daei teman. Terkadang yang paling mengiris hati adalah mereka mencontek. Mereka membuat kunci jawaban sendiri atau membawa buku catatan ke kelas ketika ujian berlangsung. Alas an yang selalu dilontarkan adalah tidak memahami apa yang dijelaskan oleh guru selama pelajaran berlangsung.   Hal ini sedikit banyaknya terkait dengan sertifikasi guru.

Guru tidak bisa memberikan keputusan yang tepat dalam rapat kenaikan kelas.

Banyak siswa yang bermasalah dari segi kognitif, afektif dan psikomotor. Akan tetapi siswa yang seharusnya tinggal kelas, pada akhirnya naik kelas juga. Dengan alas an kuota kelas dan sertifikasi. Yang paling menarik adalah adanya perseteruan antara sesame guru. Ada rapat tahunan setiap di akhir tahun ajaran. Setiap kelas, setiap wali kelas akan dimintai data anak yang bermasalah. Biasanya setiap satuan pendidikan memiliki criteria tersendiri dalam rapat. Aturannya adalah, anak akan boleh dinaikkan ke kelas berikutnya asalkan tidak memiliki nilai merah dalam mata pelajaran jurusan. Sedangkan bagi yang belum memiliki jurusan, tidak boleh memiliki nilai-nilai yang bermasalah lebih dari tiga mata pelajaran.  Setelah diumumkan anak-anak yang bermasalah, maka para guru akan rapat. Disinilah menariknya.

Para guru akan memberikan kemudahan kepada anak yang bermasalah tersebut untuk menuntaskan nilainya. Memberi remedial atau tugas untuk melengkapi nilai yang bermasalah tersebut.  Padahal anak yang bermasalah tersebut adalah anak yang sudah pada level yang bermasalah. Seharusnya anak tersebut tinggal kelas. Akan tetapi ada pertimbangan khusus sehingga anak tetap diberi dispensasi. Pertimbangannya adalah jumlah anak di kelas. Kalau jumlah anak di kelas kurang dari 20 orang, maka kelas tersebut tidak diakui. Kalau kelas tidak diakui, otomatis banyak jam guru yang bermasalah. Kalau jam bermasalah, maka guru tidak bisa mendapatkan tunjangan sertifikasi. Berapa rupiah uang yang akan hilang, tidak masuk rekening?

Akibatnya, kembali anak yang bermasalah akan merajalela. Padahal anak tersebut harus diberi hukuman supaya tidak bermasalah lagi. Akan tetapi, karena pertimbangan sertifikasi, maka anak tersebut dibiarkan naik kelas. 

Analisis

Sertifikasi adalah sebuah tunjangan yang diberikan oleh pemerintah kepada tenaga pendidik atas penghargaan jasanya.  Menurut Maslow, program sertifikasi guru merupakan salah jalan untuk memenuhi hirarki kebutuhan Maslow. Secara global, tunjangan sertifikasi guru digunakan oleh guru sebagai salah satu sumber keuangan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kerena selama ini gaji yang diterima guru tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gaji yang diterima hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan pokok. Malah mereka pun mengeluh, harus “menumbok”. Gali lubang tutup lubang. Angin sorgalah yang terasa oleh guru sertifikasi ini. secara ekonomi, keuangan mereka bertambah. Bisa dipergunakan untuk keperluan lain. Biasanya makan dengan ikan, kini bisa makan dengan daging. Bisa menyimpan uang. Tidak harus galiu lobang tutup lobang lagi. Bisa untuk membangun rumah. Bisa beli kendaraan. Bisa untuk kuliah anak. Banyak lagi yang bisa dipergunakan untuk keperluan hidup. Logikanya, bisa menilik kebutuhan lain dari hirarki kebutuhan Maslow.

 Jika kebutuhan fisiologis telah terpenuhi, maka manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang kedua, yaitu rasa aman. Begitu pula dengan guru. Mereka akan membangun rumah, atau membeli rumah. Ada selentingan kabar yang beredar, para pegawai akan menggadaikan SK ke bank. Uang dari menggadai SK akan dipergunakan untuk membangun rumah. Atau membeli rumah sebagai bentuk dari ungkapan kebutuhan rasa aman. Apalagi kalau suami istri yang berstatus PNS. Salah satu SK akan digadaikan ke bank dan uangnya dipergunakan untuk membangun rumah. Sedangkan SK satunya lagi akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Guru yang berada pada level 1 Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, dengan uang setifikasi guru akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.  Setelah itu mereka akan memikirkan tempat tinggal yang layak untuk keluarga. Memikirkan kesehatan keluarga dan lain-lain. Sedangkan guru yang berada pada level 2, guru akan mulai mencari teman, mencari perhatian dan kasih saying dari banyak orang. Guru yang berada pada level 3, akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan di level 4. Misalnya dengan membeli barang-barang mewah, seperti mobil. Bisa guru tersebut  mencari popularitas dengan menambah ilmu pengetahuan seperti kuliah lagi ke jenjang berikutnya. Guru yang berada di level 4 akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan di level 5, yaitu aktualisasi diri. Misalnya naik haji bagi orang muslim. Memiliki apartemen. Memiliki saham. Atau menambah pendidikan ke level S3. Selanjutnya guru yang berada di level 5 akan menyimpan dananya untuk keturunan, memberi bantuan kepada masyarakat, atau kegiatan social lainnya yang membuat hati mereka menjadi senang.

Bagaimana dengan siswanya di sekolah? Yah, bagaiamana dengan anak didiknya di sekolah? Apakah sebanding penghargaan yang didapat dengan keberhasilan anak didik di sekolah? Secara jujur, bisa dikatakan tidak. Sebab guru terlena dengan kesibukan sertifikasi. Mereka sibuk membenahi kebutuhan hidup keluarga. Bagaimana supaya kehidupan keluarga mereka menjadi terpenuhi. Mereka lupa dengan tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Seharusnya, mereka berbenah diri, meningkatkan kualitas diri sebagai seorang guru. Dengan mengikuti seminar-seminar pendidikan, mengikuti pelatihan. Akan tetapi kenyataan di lapangan tidak demikian. Tunjangan sertifikasi mereka pergunakan untuk menyibukkan diri dan keluarga. Nasib anak didik mereka dalam kondisi jalan di tempat. Kemampuan akademik guru pun sama saja. Tidak ditemukan prinsip berujung pada peningkatan mutu pendidikan nasional melalui peningkatan guru dan kesejahteraan guru. Sertifikasi guru merupakan upaya Pemerintah dalam meningkatkan mutu guru yang disertai  dengan peningkatan kesejahteraan guru. Guru yang telah lulus uji sertifikasi guru akan diberi tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok sebagai bentuk upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus non-pegawai negeri sipil (non PNS/swasta). Dengan peningkatan mutu dan kesejahteraan guru maka diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sama saja, sebelum sertifikasi guru dengan sesudah sertifikasi guru. Tidak ada perubahan yang signifikan.

Level pendidikan Negeri ini masih jalan ditempat. Hal ini menandakan mutu guru di Indonesia tidak meningkat. Tunjangan sudah didapat, akan tetapi kewajiban tidak meningkat. Idealnya tunjangan sertifikasi guru ini berbanding lurus dengan peningkatan mutu pendidikan. Dengan mendapatkan tunjangan guru, kualitas guru dan anak didik menjadi meningkat. Kualitas pendidikan di negeri ini menjadi meningkat. Akan tetapi kenyataannya tidak demikan. Seperti kata pepatah Minang, minyak abih, samba ndak lamak. Uang sudah dicairkan milyaran rupiah, akan tetapi hasilnya tidak Nampak. Seolah-olah usaha pemerintah untuk tidak tepat sasaran.

Alas an sertifikasi pula yang membuat tenaga pendidik enggan meninggal kelaskan anak. Anak yang saharusnya tinggal kelas, tetap dinaikkan ke kelas berikutnya. Alasannya hanya satu, tunjangan sertifikasi. Padahal, anak yang bermasalah kalau memang tidak bisa dinaikkan, jangan dinaikkan. Kalau harus ditinggalkan, tinggalkan saja. Jangan ada lagi rasa iba, atau alas an sertifikasi guru. Meloloskan anak yang bermasalah ke tingkat berikutnya akan menyebabkan pendidikan menjadi hancur perlahan-lahan. Sedangkan di kelas yang rendah saja mereka tidak mampu, apalagi di kelas yang lebih tinggi. Fenomena ini membuat anak yang bermasalah menjadi kebal terhadap hukuman sekolah. Mereka akan merajalela dengan segala kepongahan yang ada. Untuk apa kita belajar serius, tokh ujung-ujungnya kita akan naik kelas juga. Tokh nilai kita juga akan baik-baik saja. Untuk apa kita harus berikap baik, berkarakter, kalau ujung-ujungnhya kita akan naik kelas juga. Akan lolos juga. Untuk apa harus susah-suah belajar, kalau tokh kita juga akan dapat ijazah. Argument ini yang membuat anak didik me njadi acuh saja dengan pendidikan. Mereka tidak lagi memandang pendidikan itu sangat penting. Ironisnya lagi, anak didik pun tahu kalau keberadaan mereka sangat penting bagi guru di sekolah. Mereka adalah lahan uang bagi guru. Sehingga mereka pun merasa di ayas angin.

Kelemahan guru adalah tidak mampu mengambil keputusan untuk meninggalkan anak yang bermasalah. Mereka rela memikul kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Kalau anak ini ditinggalkan, maka jumlah siswa akan berkurang di kelas berikutnya. Secara umum, nama sekolah yang bersangkutan akan menjadi cacat. Tidak ada lagi orang tua yang mau menyekolahkan anaknya di sekoah tersebut. Sehingga hal ini berdampak terhadap keberadaan sertifikasi guru di sekolah. Kalau anak didik sedikit, maka rombel yang tersedia juga sedikit. Al hasil, jumlah jam guru menjadi terganggu, tidak stabil. Terpaksa guru mencari jam keluar sekolah, untuk mencukupi jam sertifikasi. Hal ini akan beresiko tinggi dan akan menimbulkan masalah baru. Takut dengan resiko dan masalah baru yang tercipta, mau tidak mau guru bersama kepala sekolah terpaksa mengamankan anak yang bermasalah. Mereka sepakat menaikkan anak yang bermasalah tersebut dengn konsekuensi apapun resiko yang ditimbulkan anak di tingkat berikutnya, semuanya akan ditanggung bersama, diperbaiki bersama.

Ya, boleh saja dengan keputusan demikian. Anak akan aman selama berada di lingkungan sekolah. Aman karena mereka berada dibawah tekanan, dibawah perjanjian anatara guru dengan murid. Selama berada di sekolah aman. Bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya? Bagaimana jadinya kalau anak tersebut telah tamat sekolah?   Fenomena yang tampak adalah banyak generasi muda yang notabene adalah asset bangsa tidak berkarakter, tidak cerdas, tidak unggul dan tidak berdaya saing.

Bisa kita lihat pada pemimpin atau petinggi Negara dewasa ini. korupsi, adat istiadat menjadi samar, lebih mengutamakan emosi dari pada logika. Brutal, anarkis, dan tidak menghargai sesame. Fenomena ini adalah gambaran kehancuran di zaman orde baru dan reformasi. Hilangnya nilai pancasila pada anak didik. Sejak kecil anak didik tidak diberikan lagi pemahaman karakter, akhlak, budi pekerti, dan moral yang benar. Semua ini akan memicu tindak kejahatan di kalangan pelajar.

Maraknya terjadi tindak kejahatan di kalangan pelajar adalah salah satu gambaran kehancuran bangsa. Sedari sekolah mereka sudah babak belur, lebih mengutamakan emosi, dapat dibayangkan jika mereka telah menjadi dewasa dan memimpin bangsa ini. tidak dapat dipungkiri, negeri ini dipimpin oleh generasi yang sudah rusak sedari bangku sekolah. Akibatnya, tidak usah dikatakan lagi. Bisa kita lihat disekeliling kita.

Sertifikasi guru pun menyumbang kehancuran bagi bangsa ini. sikap tenaga pendidik yang tidak tepat dan tidak tegas menciptakan generasi yang labil. Tidak siap dengan masa depan dan tanggung jawab. Mereka tidak tahu harus dibawa kemana bangsa ini? mereka gamang, gamang memimpin bangsa ini. mereka seolah kehilangan kemudi. Mereka tidak tanggap dengan kemajuan jaman. Mereka mengbaikan perjuangan merebut kemerdekaan. Salah satu penyebebnya adalah sertifikasi guru di lapangan.

  Sejatinya, pemerintah sangat perlu mengkaji ulang program sertifikasi guru ini. perlu ditirunkan para peneliti tentang keefektifan program sertifikasi guru ini. perlu peneliti yang independen. Jangan ciptakan lagi generasi yang tidak berkarakter. Jangan ciptakan lagi generasi yang tidak cerdas, yang tidak peduli dengan bangsa ini. jangan sampai bangsa ini hancur dan jatuh dalam genggaman penjajahan. Jangan sia-siakan perjuangan pejuang bangsa ini merebut kemerdekaan. Jangan hancurkan bangsa sendiri. Jangan hancurkan bangsa ini. jangan khianati pejuang-pejuang bangsa ini.   

Berita Terkait