post image

Bupati Kampar : Hati-hati Mengelola Dana BOS

Kamparkab- Bupati Kampar H. Jefry Noer mengingatkan kepada kepala sekolah agar hati-hati mengelola dana Batuan Operasional Sekolah (BOS). Kepala sekolah agar hati-hati mengelola dana BOS itu. Jangan sampai berurusan dengan pihak yang berwajib, sekarang target dari penegak hukum itu Kepala Sekolah, Kepala Puskesmas, dan Kepala Desa.

”Yang menjadi sorotan itu, Kepala Sekolah dengan Dana BOS nya, Kepala Puskemas dana BPJS, sementara itu Kepala Desa dengan ADD nya,”

 Pesan itu disampaikannya pada saat memberikan sambutan pada saat menerima kunjungan dari Kepala UPTD, dan Kepala Sekolah SD, SMP, SMA/SMK se Kecamatan Kampar Timur di lokasi pelatihan Jahit menjahit PKBM Bina Insan Mandiri Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu, Rabu (31/8).

 Agar Kepala sekolah itu nantinya tidak terjerat masalah hukum, Ia berharap agar pihak sekolah menggunakan dana itu sesuai dengan peruntukannya. Sehingga nantinya tidak berurusan dengan pihak berwajib.

 Dikesempatan itu, Jefry juga menjelaskan bahwa peserta pelatihan jahit menjahit PKBM Bina Insan Mandiri ini tidak dilatih untuk pandai menjahit baju, tetapi mereka dilatih untuk pandai mencari uang. Banyak cara dan upaya yang dapat dilakukan seperti melalui kebutuhan baju anak sekolah dikampung saja sudah banyak jahitan bajunya. Melalui kelompok menjahit kita dapat menghasilkan uang dengan omset yang cukup banyak, karena itu setelah tamat dari PKBM mereka akan segera membuat kelompok menjahit di Desanya masing-masing dan dikasih mesin.

"Sampai sekarang alumni dari PKBM ini sudah 1890 orang, ditambah dengan tahun ini sekitar 810 orang, sehingga akhir tahun nanti mencapai 2700 orang alumni,”katanya.

Untuk itulah, Jefry mengajak para kepala sekolah dan UPTD untuk melihat langsung pelatihan PKBM Bina Insan Mandiri di kubang jaya ini, biar bapak-bapak semuanya tahu ini bukannya bisnis pak bupati. Ia mengatakan kalau ini bisnis saya tidak mungkin saya memangkas harga baju sekolah yang biasa harga bajunya sampai 1,3 juta 5 stel menjadi 550 ribu 5 stel.

"Kalau yang namanya bisnis, nggak mungkin saya kurangi harganya, ini saya lakukan supaya wali murid bisa terbantu, sekarang kita tahu bagaimana kehidupan orang serba sulit, harga karet yang murah dan harga sawit yang turun naik harganya, jadi kedepannya jangan diberatkan lagi wali murid itu,”tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga meminta agar sekolah-sekolah tidak ada lagi yang namanya pungutan-pungutan liar. Semuanya kan sudah jelas, sekolah itu dari SD sampai SMA semuanya sudah digratiskan, jadi jangan ada lagi yang namanya uang bangku, uang daftar ulang, uang perpisahan dll.

“Terkadang saya kesal juga, padahal sudah berulang-ulang kali saya sampaikan tidak ada lagi pungutan liar disekolah-sekolah, buktinya sampai sekarang tetap masih ada sekolah yang meminta bayar ini itu kepada wali murid. Saya sangat berharap kedepannya tidak ada mendengar lagi yang namanya pungutan dalam bentuk apapun,”pungkasnya.

(KamparKab/07)

 

 

Berita Terkait