post image
Kunjungan Mahasiswa UIN Suska

Jefry Noer : Mahasiswa Penerus Pembangunan

Kamparkab - Mahasiswa adalah salah satu elemen penerus pembangunan di Kabupaten Kampar sekaligus penentu kemajuan daerah dimasa mendatang, demekian Jefry Noer ketika menerima kunjungan 30 orang mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Susqa (UIN) di Kompleks Percontohan Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE), Kamis (9/4)

Jefry Noer menjelaskan, program ini merupakan program terbaru Pemda Kampar yang masuk dalam 3 Zero "plus" target swasembada pangan dan energi. Program ini mengedepankan pemanfaatan lahan sempit untuk menghasilkan berbagai kebutuhan rumah tangga yang lebih dari cukup.

Di atas lahan seribu meter persegi itu, nantinya setiap rumah tangga dapat memelihara empat ekor sapi bila sapinya merupakan sapi Brahmana, namun bila yang dipelihara sapi Bali maka jumlahnya bisa enam ekor, dan untuk lahan seluas 1.500 meter persegi, maka akan bisa lebih banyak lagi ucapnya.

Kemudian, tambah Jefry Noer disini dibangun pula lokasi untuk pemeliharaan ayam petelor dengan hasil lebih kurang 50 butir telor per hari. Selanjutnya juga ada kolam untuk perikanan. Sementara untuk tanaman, rumah tangga mandiri dapat menanam berbagai jenis sayuran yang menjadi kebutuhan pokok, mulai dari bawang, jamur, cabai, dan lainnya.

Lebih lanjut Jefry Noer memaparkan, dari sapi yang dipelihara tersebut, juga akan menghasilkan lebih kurang 40 liter urine per hari yang akan diolah menjadi biourine dimana harganya bisa mencapai Rp25 ribu per liter. Bio urine dapat digunakan untuk pupuk perkebunan berkualitas tinggi, begitu juga dengan kotoran padat yang dihasilkan sapi-sapi tersebut juga dapat menghasilkan biogas sebagai alternatif bahan bakar ujarnya.

Jefry Noer mengatakan, melalui program ini masyarakat benar-benar akan sejahtera jika serius melaksanakannya. Karena hasilnya tidak main-main, bisa membuat masyarakat yang tadinya miskin menjadi jutawan dan tidak kebingungan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

"Mau masak tinggal beli garam, dan bumbu-bumbu saja. Mau bawang, cabai dan sayuran, tinggal dipanen di halaman rumah. Untuk masak, sudah ada biogas dan ikan yang dipelihara sendiri," katanya.

Jefry merincikan, jika program ini dijalankan dengan baik dan serius, maka hasilnya juga lebih dari memuaskan. Seperti biourine hasil dari kotoran cair sapi yang dipelihara, per bulannya dapat menghasilkan lebih seribu liter.

"Anggap saja yang jadi atau berhasil diolah itu 250 liter, artinya sudah menghasilkan uang lebih dari Rp6 juta. Belum lagi dari hasil pertanian dan perikanan yang jika serius dijalankan juga akan mendatangkan uang," katanya.

Jefry Noer memaparkan semua ini dihadapan 30 mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam Green Agriculture Comunity (GAC) UIN Susqa, setelah memaparkan semua program di RTMPE, Jefry Noer berkesempatan memasakan mi Instan untuk  30 orang mahasiswa itu, “Bagaimana Rasa mi nya, tidak berbau kotoran sapi kan?” ucapnya kepada mereka, karena bahan bakar untuk memasak mi ini dihasilkan dari limbah padat kotoran Sapi paparnya. (Humas Kampar/andi karman)

Berita Terkait