post image

Program Integrasi Ternak-Sawit Kampar Akan Hentikan Impor Sapi

Kamparkab - Program integrasi ternak dan perkebunan yang dijalankan Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar Provinsi Riau lewat Program Rumah Tangga Mandiri Pangan Energi (RTMPE) kedepan dapat menghentikan impor sapi, kata Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Dr Liferdi.

"Jadi nantinya akan ada pihak-pihak yang tidak senang dengan program ini, salah satunya adalah kalangan importir ternak sapi. Karena tidak ada lagi sapi dari luar negeri. Kampar, atau Riau bahkan Indonesia akan segera swasembada daging atau sapi," kata Liferdi kepada pers di Kubang Jaya, Siak Hulu, Kampar, Rabu (5/8) sore.

Liferdi mengatakan, pihaknya telah beberapa kali berkunjung ke Kampar khususnya ke kawasan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). "Setiap saya datang ke sini, selalu ada inovasi baru yang membuat saya kagum. Dan kali ini adalah Program RTMPE yang memang sangat luar biasa. Mengontegrasikan perkebunan dengan ternak atau sapi," katanya.

Saat itu dia berkunjung ke kawasan P4S bersama rombongan. Turut datang mantan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heryawan, Direktur Utama Bank Riau Kepri (BRK) Irvandi Gusman serta Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Riau, Wisnu Oriza. Sementara Bupati Kampar Jefry Noer dan legislator setempat Rahmad Jevari Juniardo atau Ardo.

Lewat Program RTMPE, salah satu yang dijalankan Pemda Kampar adalah integrasi sapi dan perkebunan sawit. Dalam pengelolaan lahan seluas seribu meter persegi, masyarakat diajarkan untuk mengelola pelepah kelapa sawit yang berlimpah menjadi pakan ternak.

Kemudian kotoran sapi serta urinenya diolah hingga menjadi pupuk organik dan biourine yang dapat kembali diberikan ke perkebunan sawit sebagai pengganti pupuk kimia yang selama ini merusak kesuburan tanah.

"Namun kedepan, jika program ini telah berkembang pesat dan masyarakat secara sadar menjalankannya. maka tidak hanya Kampar, Riau bahkan Indonesia akam mampu memenuhi kebutuhan daging sapi sendiri, tanpa impor," kata Liferdi.

Untuk diantisipasi, lanjut dia, dalam setip pelaksanaan program kerakyatan, biasanya akan selalu ada rintangan atau hambatan. Untuk Program RTMPE Kampar salah satu ancamannya adalah kalangan importir.

Sebenarnya pula, lanjut dia, sebelumnya ketika  Rusman Heryawan masih menjabat sebagai Wamentan, telah ada petunjuk teknis tentang integrasi perkebunan sawit dengan ternak.

Program tersebut kata dia sempat terhambat dan tidak begitu cepat berkembang. Maka pada RTMPE juga harus antisipasi segera agar program ini berjalana lancar.

"Sekali lagi saya katakan, media serta masyarakat diharapkan dapat jeli melihatnya. Pihak setiap ada program pemerintah yang sebenarnya sangat bagus, namun justru menemukan rintangan yang berat, salah satunya adalah pihak importir sapi," katanya. (fzr)

Berita Terkait