post image

Nasib Kampar Yang Terendam

Keluar dari wilayah perbatasan, arus kendaraan dari Bangkinang, pusat pemerintahan Kabupaten Kampar begitu deras menuju Ibu Kota Riau, Pekanbaru. Beberapa kilometer setelah melampui baliho besar bertuliskan "Selamat Datang di Kampar", tampak tenda biru, cukup besar.

Di sana terdapat puluhan petugas kepolisian. Mereka bersantai membelakangi Kantor Polsek Tambang yang terendam, nyaris menenggelamkan batu berukir nama kantor tersebut.

Lahan bekas terbakar saat kemarau lalu yang berada tidak jauh dari Mapolsek Tambang tak lagi tersesisa. Ketinggian air sudah melampaui ilalang yang sempat tumbuh beberapa bulan setelah "musim kabut" asap berlalu.

Sepanjang perjalanan menuju Bangkinang sebelum Danau Bengkuang, pemandangan pilu melihat para bocah meminta-minta di tengah jalan. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, berdiri tepat di tengah jalan dengan wajah sedih.

Beberapa tampak memaksa, katanya tidak ada pilihan. "Ini sudah terpaksa, tolong pak," kata seorang korban banjir yang mengetuk kaca depan mobil. Dia membawa kotak kardus bekas mie instan. Di dalamnya hanya ada beberapa lembar rupiah.

Menepi ke pinggir jalan, belum sampai Danau Bengkuang, tampak ratusan hektare kebun nenas sudah ditelan genangan air. Ribuan batang karet seperti berada di tengah lautan. Pepohonan sawit layaknya bakau. Tidak ada aktivitas perkebunan, sejumlah warga memilih mengungsi ke tenda-tenda darurat.

Lepas dari pandangan kebun yang terendam, sekelompok wanita tua terlihat tengah duduk bersila, beberapa memegang "sanduak" dan mengayuhnya di atas kuali besar. Anak-anak menunggu tepat di tepian, di bawah tenda biru sederhana. Di depannya terpajang spanduk, "Dapur Umur Bersama Korban Banjir Kampar".

Beberapa kilometer kemudian, jelang sampai Danau Bengkuang, puluhan remaja masih meminta-minta. Gadis-gadis tanggung mengerutkan kening setelah sejumlah pengendara yang melintas hanya menunjukkan telapak tangan.

Tidak jauh dari para bocah malang itu, terlihat bocah-bocah lainnya justru asik berendam. Beberapa menggunakan pelampung ban fuso. Seorang pria dewasa juga ada yang tidur di perahu karet. Beberapa ibu muda malah menggendong bayinya, berjalan di tengah genangan air yang merendam rumah bercat putih pudar.

Sama seperti lintasan sebelumnya, kebun-kebunpun terendam. Di pinggir jalan lintas yang menghubungkan Riau dengan Provinsi Sumatera Barat ini juga tampak seperti pasar tanpa barang dagangan. Yang ada hanya bergantungan pakaian setengah basah yang baru saja dicuci dengan air bercampur lumpur.

Beberapa kilometer jelang tiba di Pasar Danau, masih ada sejumlah pedagang memajang durian. Beberapa tumpuk jeruk dan buah hutan juga tersedia. Tapi sepi pembeli.

Tumpah ruah masyarakat di Pasar Danau. Ribuan orang tidak hanya pedagang memadati kantor desa setempat. Posko cukup besar telah berdiri. Di bawahnya terdapat ratusan wanita korban banjir. Yang pria masih berdiri di tengah jalan, berharap belas kasih pengendara yang melintas. Wajah-wajah mereka terlihat basah. Sebagian bahkan mengenakan bakaian lembab.

"Olah nasib Kampar terondam," kata laki-laki tak berbaju. Dia bernyanyi sambil membawa kardus kecil yang tiap saat disodorkan ke para pengendara.

Ada puluhan ribu bernasib sama seperti lagi pria tak berbaju. Mereka terpaksa mengungsi setelah banjir merendam rumah-rumah yang kini tak berpenghuni.

Bencana itu datang tidak diprediksikan. Bahkan hanya beberapa bulan setelah sejumlah wilayah di Kampar dilanda kebakaran lahan. Waduk PLTA Kotopanjang yang meluap digadang-dagang sebagai faktor utama penyebab Kampar terendam.


Korban Merata

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daetah (BPBD) Kampar, Santoso mengungkapkan, jumlah keluarga yang menjadi korban banjir dan longsor telah mencapai angka 26.614 KK, tersebar di 12 kecamatan yang berada di daerah itu. Bahkan dilaporkan 2 orang meninggal dunia akibat terseret arus.

Akibat dari bencana banjir dan longsor, kata dia, setidaknya juga ada beberapa desa yang terisolir di Kabupaten Kampar sehingga sulit untuk memberikan bantuan.

"Masih ada 1 kendala di Kabupaten Kampar, di Kecamatan Kampar Kiri Hulu masih ada  4 desa terisolir disaat bencana banjir terjadi. Penyebab terisolirnya yaitu adanya klongsoran tanah dari tebing bukit dan ada 8 jembatan yg putus. Sehingga untuk mmberikan sembako pada 4 desa yang terisolir masih sulit untuk di berikan," kata Santoso.

Adapun 4 desa terisolir yang berada pada Kecamatan Kampar Kiri Hulu adalah Pangkalan Kapas, Kebun Tinggi, Lubuk Bigau dan Tanjung Permai.

Bupati Kampar Jefry Noer dengan pasukan Dubalangnya juga ambil bagian, turun ke lokasi banjir dan membagikan sembako untuk para korban. Dia juga menginstruksikan semua dinas dan perusahaan yang ada di daerah itu untuk bergegas membantu.

Oleh Fazar Muhardi

Berita Terkait