Kartini Masa Kini, Jadi Perempuan Serba Bisa
post image
oleh : Netty Mindrayani,S.Sos

Kartini Masa Kini, Jadi Perempuan Serba Bisa

PERKEMBANGAN zaman sekarang telah jauh lebih baik dan maju, memberi kesempatan serta peluang besar kepada kaum perempuan agar berkarya, berkarier, berpolitik untuk berperan dalam mengisi pembangunan di segala aspek kehidupan dengan memanfaatkan waktu luang, kesempatan yang ada sebaik mungkin dan semaksimal mungkin mengembangkan potensi diri, mengasah kemampuan olah keterampilan, olah pikir, tidak berdiam diri, memupuk rasa percaya diri, tanpa harus melupakan tugas pokok sebagai ibu rumah tangga, selaku istri dan ibu dari anak-anak dengan benteng keimanan yang kokoh.

            Fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat masih banyak kaum perempuan yang bersikap apatis, berdiam diri atau tidak kreatif, merasa minder, takut, ragu-ragu dan malu sehingga tidak mampu membaca berbagai peluang emas yang ada dihadapanya.   Fenomena lain yang tidak dapat dipungkiri, masih ada ketidakrelaan kaum laki-laki melihat kaum perempuan lebih maju, bahkan masih berpedoman atau berpikiran bahwa tugas kaum perempuan itu seperti 30 tahun yang lalu hanya melaksanakan segala urusan di rumah untuk menyelesaikan  tugas "TIGA UR" [di dapur, di sumur dan tempat tidur], namun jika mau jujur mengakui, sesungguhnya kaum perempuan memiliki kemampuan lebih kurang sama dengan kaum laki-laki pada tingkat kecerdasan, kecermatan dan keberanian.

            Fakta yang ada dalam sejarah dunia, Indonesia sudah pernah memiliki presiden perempuan, bupati, maupun yang sukses kariernya di bidang lain, seperti menjadi menteri, direktur perbankan, pada perusahaan-perusahaan, di lembaga penegak hukum, ada tentara perempuan, ada polwan dan lain sebagainya.

Kenyataan lain, jika ditilik dari tingkat kerajinan, keuletan, ketekunan, kaum perempuan memiliki kelebihan lebih dari kaum laki-laki, sebagai contoh di daerah kita ini, Kabupaten Kampar masih banyak ditemui perempuan yang mengerjakan tugas laki-laki, istri bekerja di ladang, sedang suami menghabiskan hari-harinya nongkrong di kedai-kedai kopi main domino. Jika memang kerja perempuan itu menyelesaikan urusan di rumah yakni TIGA UR, lalu mengapa penyapu jalanan juga didominasi kaum perempuan??? Tugas menyapu jalanan tidak sama dengan di rumah.

            Pada tingkatan berbeda, pemikir bangsa ini juga diwarnai oleh kaum perempuan, ada pemikir pembuat kebijakan di negara Indonesia ini kaum laki-laki yang merumuskan peraturan berdasarkan pandangan objektif bahwa kaum perempuan memiliki potensi yang baik dan peluang besar berperan aktif dalam pembangunan sehingga peluang dan kesempatan besar itu tercipta untuk perempuan dalam semua aspek kehidupan, untuk mencerdaskan anak bangsa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, berkecimpung di dunia politik, peningkatan ekonomi, menjalin hubungan sosial kemasyarakatan yang memang membutuhkan sebuah pendekatan tersendiri dalam peningkatan pergaulan, begitu pula penanaman asas kebudayaan dan pertahanan keamanan di tengah-tengah masyarakat untuk mengisi pembangunan. Sekarang tinggal bagaimana memanfaatkan peluang itu sebaik mungkin.

            Pertanyaannya bagaimana kaum perempuan dapat berperan aktif dalam segala aspek itu?? Meski peran perempuan dalam aspek lain sudah semakin banyak, namun persoalannya sangat jarang mereka mendapat sokongan positif dari kaum adam, sehingga jumlah kaum perempuan yang berada pada puncak karier itu terhitung sangat sedikit karena berbagai alas an terutama pada faktor “Kecemburuan” dalam segala bidang. Kebanyakan kaum adam merelakan perempuan itu bekerja diluar rumah, lebih kepada factor sulitnya ekonomi, itu terjadi pada mereka yang hidup dilapisan bawah untuk membantu penghasilan keluarga. Mereka memang sangat menghitung setiap nominal yang mereka dapatkan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Memang tidak dipungkiri banyak juga perempuan bekerja karena hobby atau profesi yang dimiliki, meski kebutuhan semua tercukupi, namun untuk mendapatkan kepuasan bathin yang mereka harapkan dapat dicapai.

Berbeda pada kehidupan kelas menengah keatas, lebih kepada untuk mendapatkan status atau memperkokoh jabatan suami supaya lebih bergengsi. Soal kualitas menjadi nomor dua, yang penting mendapat jabatan dan jadi orang terhormat, meski kadang-kadang hitungan pendapatan tidak lebih besar dari penghasilan.

Positif negative pastilah ada, hanya saja bila ditarik dari sisi negative, apabila sang suami memiliki istri yang tidak punya pengalaman sama sekali diluar, maka ketika sang suami mendapat amanah menjadi panutan masyarakat, bila tidak ditunjang oleh sikap dan kemampuan sanga istri, yang bakal malu adalah suami itu sendiri. Ini pula yang sering terjadi “Suami Kawin Lagi”, alasannya, istri tidak mendukung perkembangan karier. Yang salah tetap perempuan, mau tidak mau itu dilakukan, meski harus melukai perasaan sang istri.

Ketimpangan ini akan terus berlanjut apabila di dalam kehidupan rumah tangga tidak harmonis atau tidak memiliki komunikasi yang baik antar suami dan istri. Bila keduanya mampu membagi waktu, menjalankan tugas dan kewajiban secara arif dan bijaksana, maka kesetaraan gender seperti harapan pahlawan Indonesia, RA Kartini itu memang benar-benar terwujud.

Kartini-kartini masa kini, “Jangan berdiam diri, asah kemampuan, gali potensi dan kembangkan bakat dan hobby untuk berperan dalam pembangunan sehingga, kesewenang-wenangan, kebodohan dan ketertinggalan dapat disingkirkan, karena peran perempuan itu sangat besar, keberhasilan dalam membina rumah tangga seperti membesarkan dan mendidik putra putri menjadi orang sukses menjaga generasi emas terhindar dari pergaulan bebas serta pengaruh jahat narkoba menjadi bagian tugas sangat penting kaum perempuan, meski tanggungjawab itu tidak dipikul sendiri. (Netty)

 

Berita Terkait