post image

Tingkat Kemiskinan Kampar Menurun Drastis

Kamparkab - Tingkat kemiskinan di Kabupaten Kampar Provinsi Riau menurun drastis setelah dilakukannya percepatan program pengentasan kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh oleh pemerintah daerah setempat.

"Ini merupakan target, karena pada akhir 2016 mendatang Kampar harus bebas dari kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh," kata Bupati Kampar, Jefry Noer dalam Rapat Koordinasi Tim Zero di Balai Bupati Kampar di Bangkinang, Senin (30/3) sore.

Rapat ini dihadiri seluruh camat dan sejumlah kepala dinas khusus untuk bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Mereka juga menyerahkan hasil pendataan warga miskin setelah dilaksanakannya Program Lima Pilar Pembangunan yakni meningkatkan akhlak dan moral masyarakat, peningkatan ekonomi masyarakat, peningkatkan sumber daya manusia, peningkatan kesehatan dan peningkatan infrastruktur.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Jefry meminta agar seluruh camat mendukung penuh Program Lima Pilar yang dikerucutkan menjadi Tiga Zero untuk Kampar bebas dari kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh.

Jefry Noer banyak mengulas tentang Program Desa serta Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi yang dianggap sangat potensial untuk memberantas kemiskinan di daerah itu.

Program tersebut merupakan program terbaru Pemkab Kampar yang masuk dalam 3 Zero "plus" target swasembada pangan dan energi.
Program ini mengedepankan pemanfaatan lahan sempit untuk menghasilkan berbagai kebutuhan rumah tangga yang lebih dari cukup.

Di atas lahan seribu meter persegi itu, nantinya setiap rumah tangga dapat memelihara empat ekor sapi bila sapinya merupakan sapi Brahmana, namun bila yang dipelihara sapi Bali maka jumlahnya bisa enam ekor, dan untuk lahan seluas 1.500 meter persegi, maka akan bisa lebih banyak lagi.

Kemudian, dibangun pula lokasi untuk pemeliharaan ayam petelor dengan hasil lebih kurang 50 butir telor per hari. Selanjutnya juga ada kolam untuk perikanan. Sementara untuk tanaman, rumah tangga mandiri dapat menanam berbagai jenis sayuran yang menjadi kebutuhan pokok, mulai dari bawang, jamur, cabai, dan lainnya.

Kemudian dari sapi yang dipelihara tersebut, juga akan menghasilkan lebih kurang 40 liter urine per hari yang akan diolah menjadi biourine dimana harganya bisa mencapai Rp25 ribu per liter. Bio urine dapat digunakan untuk pupuk perkebunan berkualitas tinggi, begitu juga dengan kotoran padat yang dihasilkan sapi-sapi tersebut juga dapat menghasilkan biogas sebagai alternatif bahan bakar.

Jefry Noer mengatakan, melalui program ini masyarakat benar-benar akan sejahtera jika serius melaksanakannya. Karena hasilnya tidak main-main, bisa membuat masyarakat yang tadinya miskin menjadi jutawan dan tidak kebingungan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

"Mau masak tinggal beli garam, dan bumbu-bumbu saja. Mau bawang, cabai dan sayuran, tinggal dipanen di halaman rumah. Untuk masak, sudah ada biogas dan ikan yang dipelihara sendiri," katanya.

Jefry merincikan, jika program ini dijalankan dengan baik dan serius, maka hasilnya juga lebih dari memuaskan. Seperti bio urine hasil dari kotoran cair sapi yang dipelihara, per bulannya dapat menghasilkan lebih seribu liter.

"Anggap saja yang jadi atau berhasil diolah itu 250 liter, artinya sudah menghasilkan uang lebih dari Rp6 juta. Belum lagi dari hasil pertanian dan perikanan yang jika serius dijalankan juga akan mendatangkan uang," katanya.

Para camat dan kepala dinas terkait dalam rapat tersebut menjelaskan hasil kerja selama beberapa periode terakhir. Dari hasil rekapitulasi hasil evaluasi dan monitoring, data penduduk miskin di seluruh kecamatan di Kabupaten Kampar menurun drastis.

Semisal di Kecamatan XIII Koto Kampar, menurut catatan Tim Zero, sejak digulirkannya Program Lima Pilar Pembangunan Kampar yang dikerucutkan menjadi Tiga Zero, angka kemiskinan menurun dari 55,36 persen pada 2012, menjadi tinggal 29,77 persen.

Jumlah penduduk di kecamatan tersebut sejauh ini terus bertambah, dari 13 desa/kelurahan yang ada di sana, saat ini tercatat ada sebanyak 25.260 jiwa penduduk.

"Seluruhnya ditargetkan untuk bebas dari kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh. Terkecuali bagi yang tulang rusuknya panjang, atau lebih dari orang pemalas," kata Jefry Noer. (humas)

Berita Terkait